Bayangmu Memudar

| Kamis, 24 Mei 2012 | 0 komentar |

Kita tak lagi bersama, bukan karena jarak yang memisahkan kita. Bukan pula rentang waktu yang membedakan kita. Entah, semacam batas bening tak berbayang jelas menjauhkan kita. Aku tak mengerti saat alasan bisa sangat memukul perasaanku. Ketika kau ungkapkan pada pagi hari itu saja, aku tak mampu berdiri untuk melihat bayanganku sendiri. Kupikir, jarak bukan lagi masalah karena kau akan segera pindah. Aku bisa bertemu denganmu kapan saja, seketika itu menjadi sia-sia karena kau menyerah pada perasaanmu sendiri. Aku pun tak sanggup menyelamatkan bulir bening yang jatuh saat namaku disebutkan. Sampai setiap malam aku takut lagi untuk menatapmu. Waktu tak lagi berharga ketika bertahun-tahun menjadi sia-sia karena kau hancurkan dalam sehari. Dimanakah kucari hati yang hilang. Menjelang pagi kutemukan diriku terbangun bersimbah air mata, memimpikanmu. Bayang-bayangmu memudar, tapi perasaan itu masih kuat. Justru bertambah sakit.

Lebih Baik Terbakar

| Rabu, 23 Mei 2012 | 0 komentar |

Menjelang pagi, aku tak sanggup membangun mimpi. Kenyataan yang memaksaku pergi karena malam adalah mimpi buruk yang selalu menghantui. Ketika mentari bersembunyi di balik selimut. Aku tak pernah menemukan cahaya di wajahku. Tidak seberkas senyum, tidak juga pandangan mata yang berbinar. Melainkan garis hitam melingkar di bawah mata, karena semalam tak mampu terpejam. Aku takut untuk membuka mata, terlebih hati. Setelah kutahu kau hujamkan belati tepat menusuk jantungku. Apa salahku, tak pernah kau tawarkan pilihan. Hingga remuk sedu sedan yang tertahan di dalam dada. Kau tak pernah tahu masih ada bayangmu dalam mimpiku, setelah kupadamkan lampu sekalipun. Aku tak bisa membalut luka yang kutahan meski perih terasa. Jika nanti, kucoba berlari untuk menemukan cahaya. Lebih baik aku terbakar daripada tertusuk tanpa alasan.

Hatiku Tenggelam

| Selasa, 22 Mei 2012 | 0 komentar |

Aku tak menyangka, sekiranya matahari tak pernah bersinar lagi. Tiba-tiba saja suatu hari laksana bencana, datang tanpa tiupan sangkakala. Kini, daun mengering selama mentari tak terbit lagi di ufuk sana. Rerumputan kian merindukaan terpaan cahaya. Sejak, langit berubah pekat dan mendung sepanjang musim. Bukan saja angin tak punya alamat untuk berteduh, nyanyian sepi kian menyapa di bawah rindang pohon cemara. Saat itu, aku terbangun menahan getir yang timbul di sudut mata. Memimpikan layarmu terkembang dan menjauh pergi menghapuskan namaku yang tertulis di pasir pantai. Nada sendu mengalun mengiringi pejaman mataku, berharap menjadi akhir dari segala cerita. Tak ada lagi lambaian tangan di ujung dermaga. Selain luka yang kubalut dengan senyum paksa. Mengeja gerimis yang jatuh menerpa wajahku. Hatiku tenggelam jauh ke dasar lautan. 

Tak Pernah Hilang

| Minggu, 20 Mei 2012 | 1 komentar |
Suatu pagi yang biasa, hadir semacam cahaya kembali menyapa. Tak ada yang berubah manakala rindu pun tak kunjung pulang. Seketika bagian dirimu larut dan hilang. Senyawa cinta yang kini lenyap dalam sekejap lantaran benci yang perlahan tumbuh. Tanpa kutahu ada benih-benih lain yang mengakar perih. Luka masih saja meneteskan darah sejak kau lupa akan janji manismu yang tak terucap kata. Lebih dari sekadar ungkapan bahwa janjimu telah terukir di dalam dada. Entah, apakah benci dapat tersapu angin. Seperti kenangan yang dapat terlupakan begitu saja, ingatan juga album manusia. Suatu waktu dan lupa datang silih berganti. Aku tak menemukan cinta itu kembali. Telah kurantau bilangan kota, kudaki pencakar langit gedung tinggi, kulewati lembah dalam keresahan. Di sudut hatiku masih saja kutemukan namamu, tak pernah hilang.